ARTICLE
Kisah Gojek yang dalam 2 Bulan Dapatkan Pendanaan 4 Triliun Rupiah

Sebagai salah satu perusahaan startup di bidang transportasi asal Indonesia, kehadiran Gojek sepertinya mendapat perhatian yang luar biasa baik dari pemerintah, masyarakat, hingga investor asing. Di balik pro-kontra persoalan transportasi online di tanah air, lo pasti nggak menyangka kalau hanya dalam kurun waktu dua bulan saja, perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim di tahun 2010 silam ini sudah mengantongi pendanaan sebesar 4 triliun rupiah.

“Unicorn” Pertama Asal Indonesia

Buat lo yang belum tahu, predikat “unicorn” ini hanya diberikan untuk perusahaan startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari USD 1 miliar. Sampai saat ini, setidaknya ada 225 perusahaan startup yang berpredikat “unicorn” di seluruh penjuru dunia, dan 4 diantaranya berada di Indonesia, yaitu Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Gojek merupakan startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar bergengsi ini usai menerima pendanaan sebesar USD550 juta atau setara dengan Rp7,5 miliar. Dana investasi ini dikucurkan dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug pada 4 Agustus 2016.

Suntikan Dana dari Tencent

Pendanaan untuk Gojek sepertinya terus mengalir deras. Terbukti, di tahun lalu Gojek memperoleh suntikan dana tambahan senilai USD1,2 miliar atau nyaris menyentuh angka 2 triliun rupiah dari Tencent. Suntikan dana ini membuat total pendanaan yang sukses diraih Gojek berada menduduki puncak teratas jika dibandingkan dengan empat "Unicorn" Indonesia lainnya. Pertumbuhan startup penyedia ride sharing tersebut memang nggak bisa lo ragukan lagi.

Google Juga Nggak Mau Ketinggalan!

Melihat tingginya angka valuasi Gojek, membuat raksasa teknologi dunia, Google, ikut mengucurkan USD150 juta atau sekitar Rp2 triliun di awal tahun 2018 ini. Dalam investasinya kali ini Google menggandeng Temasek Holding. Langkah yang diambil Google ini tentu semakin mengukuhkan posisi Gojek sebagai salah satu perusahaan startup bidang transportasi yang terbesar di Indonesia.

Pendanaan dari Investor Lokal

Nggak sampai berselang 2 bulan dari pendanaan Google, lagi-lagi Gojek mendapat kucuran dana yang sangat besar dari investor lokal. Kabarnya PT. Astra Internasional, Tbk. yang telah berpengalaman dalam industri otomotif di tanah air pun menggelontorkan dana hingga 2 triliun rupiah. Nggak heran pihak Astra rupanya juga banyak dapat keuntungan dari Gojek, sejak para mitra pengemudi banyak yang menggunakan kendaraan bermotor buatan Astra.

Pemanfaatan Pendanaan Secara Cerdas

Uang sebanyak itu, nggak hanya digunakan Gojek menghidupi operasional. Gojek juga melakukan aksi akuisisi dan investasi ke banyak perusahaan rintisan lain. Tercatat, sepanjang tahun 20166 hingga 2017 Gojek sudah mengakuisisi C42 Engineering, Pianta, MV Commerce, Leftshift, Loket, Kartuku, Mapan, dan yang terakhir adalah Midtrans di tanggal 15 Desember 2017.

Selain itu, Gojek juga berinvestasi pada dua startup lain, yaitu Halodoc dan Pathao. Masing-masing investasi Gojek diketahui sebesar Rp180 miliar dan Rp27 miliar. Jangan salah, investasi ini dilakukan untuk mendukung fitur dan layanan yang ada pada aplikasi Gojek, seperti Go-Med yang memungkinkan pengantaran atau pembelian obat dari apotek yang telah menjadi rekanan dari startup berlogo hijau ini.

Banyaknya pendanaan yang didapat oleh Gojek diharapkan berkontribusi besar terhadap kondisi perekonomian Indonesia di tengah pertumbuhan MEA. Secara nggak langsung, kehadiran Gojek sudah membuka banyak lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar. Gimana menurut pendapat lo, sob?

Photo credit: geralt (Pixabay)